Ekspresi Kemenangan

16 mei 2011, hari penentuan lulus atau tidaknya siswa kelas XII di SMA/MA dan SMK di kota Palangkaraya. “Dag dig dug” begitu kata mereka jika ditanya bagaimana perasaan mereka saat itu. Berbagai perasaan mereka rasakan sebelum pengumuman. Gugup, harap-harap cemas dan lain-lain. Ibu kepala sekolah memberikan sedikit pengarahan untuk mereka. Semua siswa kelas XII di SMA 2 berkumpul di depan ruang dewan guru. Hening, semua mendengarkan pengarahan dari bu Badah yang tidak lain dan tidak bukan adalah kepala sekolah SMA 2. Beberapa siswa yang mendapatkan nilai terbaik dikelasnya dipanggil maju kedepan. Lalu saat-saat yang ditunggu datang. Amplop kelulusan yang mereka tunggu-tunggu akhirnya dibagikan per kelas melalui wali kelas masing-masing. Mereka langsung membuka amplop yang sudah dibagi. Dan 1 2 3 semua berteriak “akuuu luluuuus !!”, ada yang langsung sujud, memeluk teman, berteriak, melompat, menangis dan lain sebagainya.

Kami (shendy, ervi , unish) diberi tugas untuk mengabadikan momen bahagia ini. Unis yang seharusnya ikut mengambil foto tidak bisa ikut karena musibah kecelakan yang dia alami. Dan ini beberapa ekspresi kemenangan mereka : 

    foto bersama guru guru More

Advertisements

Kado untuk Samuel

Kalian harus baca ini guys, cerita yang bisa jadi inspirasi kalian

KADO UNTUK SAMUEL

Aku meneguk sisa es teh tawar yang masih tersisa di gelasku. Ketika aku masih menikmatinya ekor mataku menangkap sosok anak laki-laki yang memperhatikanku. Matanya menatapku. Sebuah tatapan yang menusuk ke dalam hatiku. Tatapan yang penuh iba. Aku meletakkan gelas yang hanya menyisakan es batu yang masih membeku.

“Bu, anak kecil yang duduk di pinggir jalan itu siapa ya?” tanyaku penasaran kepada pemilik warung sambil memandang anak laki-laki tersebut.

“Ow… Duh, kasihan tuh anak, bang!”

“Kasihan kenapa, bu?”

“Sudah seminggu bapanya meninggal gara-gara sakit. Ibunya sih meninggal pas melahirkan dia. Dia ngga punya keluarga lagi. Sekarang sih dia tidur di mana saja karena di usir dari kontrakan.”

“Begitu ya, bu!”

Selesai membayar es teh tawar yang aku pesan. Aku menghampiri anak laki-laki yang hanya mengenakan pakaian kumal tanpa alas kaki. Entah sudah berapa lama dia tidak mengganti pakaiannya.

Semakin aku mendekatinya semakin jelas kelihatan kalau tubuhnya tidak terurus. Dia terus menatapku sampai aku duduk di sampingnya.

“Nama kamu siapa dek?” tanyaku dengan nada bersahabat sambil mengukir sebuah senyuman.

“Aku lapar, kak!” ucapnya sambil memegang perutnya.

Aku mencoba mengingat uang yang masih tersisa di saku dan dompetku. Hanya ada selembar sepuluh ribuan dan dua koin lima ratus. More